Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sering menjadi perhatian investor, terutama saat pasar menghadapi ketidakpastian global maupun domestik. Dalam kondisi seperti ini, investor umumnya mulai mencari instrumen yang dinilai lebih defensif untuk menjaga stabilitas portofolio.
Di tengah situasi seperti ini, pola yang cukup familiar pun kembali terlihat: sebagian dana mulai beralih ke instrumen yang dianggap lebih stabil. Emas, misalnya, sering menjadi salah satu pilihan yang kembali dilirik saat ketidakpastian meningkat.
Namun, fenomena ini bukan sekadar kebiasaan yang berulang. Ada pertimbangan yang lebih mendalam di baliknya—mulai dari cara emas menjaga nilainya di tengah gejolak, hingga perannya dalam membantu menjaga keseimbangan portofolio. Lalu, apa sebenarnya yang membuat emas tetap menarik di saat kondisi pasar tidak menentu?
IHSG sempat mengalami tekanan signifikan pasca pengumuman MSCI terkait metodologi free float – porsi saham yang tersedia untuk diperdagangkan publik1 – bahkan memicu trading halt oleh BEI pada sesi perdagangan.
Perubahan metodologi ini berpotensi memengaruhi bobot sejumlah saham Indonesia dalam indeks global MSCI, yang menjadi acuan bagi banyak investor institusional dan dana pasif. Di tengah meningkatnya volatilitas—ukuran statistik yang menggambarkan kecepatan dan besarnya fluktuasi harga aset keuangan—Bursa Efek Indonesia (BEI) kemudian memberlakukan trading halt untuk meredam kepanikan pasar dan memberi waktu bagi pelaku pasar mencerna informasi dengan lebih tenang.
Merespons volatilitas (ukuran statistik yang menunjukkan seberapa cepat dan drastis harga suatu aset keuangan berfluktuasi) yang meningkat, Bursa Efek Indonesia (BEI) mengambil langkah trading halt guna meredam kepanikan dan memberi waktu bagi pelaku pasar untuk mencerna informasi.
Hal ini kemudian memicu reaksi pasar yang menunjukkan sensitivitas tinggi terhadap perubahan kebijakan indeks global. Sejumlah saham berkapitalisasi besar yang sebelumnya memiliki bobot signifikan dalam indeks MSCI mengalami tekanan jual, dipicu oleh potensi penyesuaian portofolio investor global.
Kondisi ini mencerminkan bahwa peran dana asing masih cukup signifikan, sehingga pasar domestik turut merasakan dampak dari perubahan kebijakan eksternal. Ketika investor global melakukan penyesuaian portofolio, efeknya dapat ikut memengaruhi likuiditas serta pergerakan harga saham di dalam negeri.
Di luar fenomena ini, penurunan IHSG pada umumnya juga dipicu oleh kombinasi faktor ekstrnal dan internal. Beberapa pemicu utama yang sering muncul antara lain2:
Ketika faktor-faktor tersebut terjadi bersamaan, investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko tinggi seperti saham. Aksi jual yang meluas dapat mempercepat penurunan indeks dan memperkuat sentimen negatif di pasar.
Dalam kondisi seperti ini, prioritas investor berubah. Jika sebelumnya fokus pada pertumbuhan, kini tujuan utama menjadi menjaga nilai aset.
Emas memiliki karakteristik yang berbeda dari instrumen investasi lainnya. Tapi apakah Anda sudah mengetahui kinerja emasnya sepanjang sejarah?
World Gold Council mencatat bahwa emas memiliki korelasi rendah hingga negatif terhadap saham, terutama saat krisis. Artinya, ketika pasar saham turun tajam, emas sering kali bergerak stabil atau bahkan naik. Hal ini terlihat dalam beberapa periode krisis global, termasuk krisis finansial 2008 dan pandemi 2020, di mana harga emas mengalami lonjakan signifikan saat pasar saham tertekan3.
Harus diakui, emas memiliki karakteristik unik yang membedakannya dari instrumen lain, di antaranya:
Karakteristik tersebut menjadikan emas sebagai instrumen yang relatif independen dari dinamika ekonomi suatu negara. Ketika kebijakan moneter berubah atau kondisi korporasi memburuk, emas tetap mempertahankan daya tariknya sebagai penyimpan nilai.
Data terbaru bahkan menunjukkan bahwa permintaan emas meningkat saat ketidakpastian global memuncak. Pada awal 2026, harga emas dunia bahkan mencetak rekor tertinggi baru, didorong oleh permintaan safe haven dan ketegangan geopolitik4.
Selain itu, harga emas global telah melonjak tajam dalam beberapa tahun terakhir. Dari kisaran USD1.800–1.900 per troy ounce pada 2023, harga emas menembus USD5.000 pada awal 2026, menunjukkan kenaikan hampir 180% dalam tiga tahun5.
Kenaikan ini tidak terjadi secara kebetulan. Inflasi global, ketidakpastian geopolitik, dan pembelian besar-besaran oleh bank sentral dunia menjadi faktor utama yang mendorong harga emas.
Fungsi utama emas dalam portofolio bukan untuk menghasilkan imbal hasil tinggi dalam waktu singkat, melainkan sebagai pelindung nilai terhadap inflasi, depresiasi mata uang, dan volatilitas pasar. Dalam konteks pelemahan IHSG, peran emas menjadi lebih jelas jika dibandingkan dengan instrumen lain:
Perbandingan ini menunjukkan bahwa setiap instrumen memiliki fungsi berbeda dalam portofolio. Tidak ada satu aset yang sepenuhnya unggul, tetapi kombinasi yang tepat dapat membantu investor menghadapi berbagai kondisi pasar
Saat krisis 1998, ketika rupiah terdepresiasi tajam, harga emas melonjak drastis. Pola serupa terjadi pada pandemi 2020, ketika ketidakpastian global mendorong harga emas ke level tertinggi.
Tren ini berlanjut hingga 2026, di mana arga emas Antam sempat mencapai rekor Rp3.168.000 per gram sebelum terkoreksi, tetap berada pada level historis yang tinggi.
Berdasarkan fakta tersebut, tidak bisa dipungkiri bahwa emas tidak hanya berfungsi sebagai investasi, tetapi juga sebagai alat perlindungan nilai terhadap pelemahan mata uang dan inflasi.
Dalam portofolio yang terdiversifikasi, emas berfungsi sebagai penyeimbang. Ketika saham turun, emas membantu menahan penurunan nilai portofolio secara keseluruhan. Dengan demikian, investor tidak dipaksa menjual aset dalam kondisi pasar yang tidak menguntungkan.
Dalam kondisi pasar yang dinamis, diversifikasi tetap menjadi prinsip penting dalam pengelolaan invetasi. Emas dapat berperan sebagai penyeimbang portofolio, sementara saham tetap menawarkan potensi pertumbuhan jangka panjang. Kombinasi keduanya sangatlah perlu untuk disesuaikan dengan profil risiko dan tujuan finansial masing-masing investor.
Perlu juga dipahami, meskipun emas dapat berperan sebagai salah satu instrumen untuk menjaga nilai di tengah dinamika pasar, investasi saja mungkin belum cukup untuk mengantisipasi seluruh risiko dalam kehidupan. Risiko seperti kesehatan, kecelakaan, maupun kehilangan pencari nafkah berpotensi memengaruhi kestabilan keuangan, termasuk aset yang telah dikumpulkan. Dengan memahami hal ini, pengelolaan keuangan dapat dilakukan secara lebih menyeluruh dan seimbang.
Di sinilah peran asuransi menjadi relevan sebagai pelengkap strategi keuangan yang lebih komprehensif. Jika emas melindungi nilai dari volatilitas pasar, asuransi membantu menjaga stabilitas finansial dari risiko kehidupan yang tidak terduga. Salah satunya dengan Proteksi Prima Pendapatan Berencana yang dirancang untuk memberikan kepastian finansial dalam berbagai skenario kehidupan. Dengan kombinasi manfaat tunai tahunan, perlindungan jiwa, serta manfaat akhir masa pertanggungan, kehadirannya dapat membantu menjaga keseimbangan antara proteksi dan perencanaan masa depan, termasuk dalam mempersiapkan warisan bagi keluarga.
Perencanaan keuangan yang sehat bukan tentang memilih satu instrumen terbaik, melainkan membangun sistem yang saling melengkapi. Ketika pasar bergejolak, stabilitas menjadi aset yang paling berharga, dan stabilitas itu dibangun dari kombinasi investasi yang bijak serta perlindungan yang tepat. Bersama Proteksi Prima Pendapatan Berencana, apa pun rencana keuangan #TemanGenerasi bisa diwujudkan dengan penuh ketenangan.
Tentang Manulife
Manulife Indonesia melayani sekitar 2 juta nasabah di Indonesia